Bagi warga Bandung, mendengar kata “Kopo” mungkin langsung memicu bayangan tentang barisan kendaraan yang mengular atau genangan air yang muncul setiap kali hujan turun.
Belakangan ini, kawasan tersebut bahkan mendadak viral di media sosial, bukan karena objek wisata baru, melainkan melalui ratusan meme satir yang menjadikannya bahan candaan warganet.
Namun, di balik hiruk-pikuk klakson dan populernya konten humor tersebut, Kopo menyimpan sejarah panjang yang kontras dengan kondisinya saat ini.
Dari Landmark Pohon Jambu hingga Hutan Beton
Nama Kopo sebenarnya diambil dari sebuah pohon penanda wilayah atau landmark masa lalu, yakni pohon Kopo (Syzygium polycephalum) atau yang lebih dikenal masyarakat Jawa Barat sebagai jambu kopo. Dahulu, pohon ini menjadi rujukan arah yang sangat kuat bagi orang-orang yang sedang bepergian.
Pakar geografi, Titi Bachtiar, menjelaskan bahwa jambu kopo ini sejenis jambu air namun memiliki rasa yang kesat dan agak pahit.
Hal inilah yang membuat vegetasinya kian langka karena jarang ada yang tertarik memperbanyaknya, ditambah lagi dengan pesatnya pembangunan pabrik dan permukiman di kawasan tersebut.
Saat ini, pohon yang menjadi asal-usul nama tersebut hanya bisa ditemukan di beberapa titik terpencil di Jawa Barat, seperti di Depok dekat Pantai Pamungpeuk dan Palabuhanratu.
Jalur “Emas” yang Berubah Wajah
Jauh sebelum dikenal sebagai titik macet, Kopo pada masa kolonial adalah distrik yang tenang dan hijau. Kawasan ini berfungsi sebagai penghubung utama antara pusat kota dengan perkebunan teh dan kopi di Ciwidey serta Pangalengan. Udara segar dan suara roda pedati pengangkut hasil bumi merupakan pemandangan sehari-hari di jalur yang juga sempat memiliki jalur kereta api Bandung-Ciwidey ini.
Secara geografis, wilayah Kopo awalnya hanya membentang dari Jalan Soekarno-Hatta ke arah utara menuju pusat Kota Bandung, namun kini telah berkembang luas memanjang ke arah selatan.
Transformasi ini mengubah Kopo menjadi pusat ekonomi yang padat, mulai dari pusat tekstil, kuliner, hingga menjadi akses utama menuju Gerbang Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja).


